SOSIOLOGI DAN PENYULUHAN UNTUK PEMBANGUNAN PERTANIAN
ABSTRAK
Bahwa pembangunan pertanian bukan hanya
menyangkut aspek ekonomi dan aspek teknik semata, namun menyangkut pula
aspek sosial dan aspek pengembangan sumberdaya petani. Permasalahannya
bagaimana ke dua mata kuliah yaitu, sosiologi pertanian dan penyuluhan
pertanian mampu memberikan kontribusinya bagi terciptanya keberhasilan
pembangunan pertanian tersebut.
Metode kajian dilakukan melalui
pendekatan deskriptif analisis. Analisis didasarkan pada pengalaman
mengajar sosiologi pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi
yang masih belum berpengalaman.
Kesimpulan kajian pertama, pendidikan
sosiologi pertanian dituntut untuk memberi penguatan terhadap
pembangunan pertanian melalui pengembangan riset sosial. Kedua,
pendidikan penyuluhan pertanian dituntut untuk memberi penguatan
terhadap pembangunan pertanian melalui pemberdayaan masyarakat tani.
Disarankan, ke dua mata kuliah tersebut patut disinergikan bagi
keberhasilan pembangunan pertanian. Dengan kata lain aktifitas riset
sosial perlu difokuskan kepada pemecahan masalah pemberdayaan masyarakat
tani.
__________
Kata Kunci : Sosiologi pertanian, Penyuluhan pertanian; dan Pembangunan pertanian.
I. PENDAHULUAN
Bahwa pembangunan pertanian dalam tulisan ini
diposisikan sebagai upaya kebijakan, program dan proyek bukan sebagai
mata kuliah. Pembangunan pertanian yang bukan hanya menyangkut aspek
teknik dan aspek ekonomi semata. Namun pembangunan pertanian yang
menyangkut pula aspek sosial dan pengembangan sumberdaya manusia. Cukup
tepat kira nya menurut Ariif Budiman (2000) bahwa, pada dasar
nya masalah pembangunan sebenarnya terletak pada masalah materi yang mau
dihasilkan dan di bagi, serta pada masalah manusia yang menjadi
pengambil inisiatif yang menjadi manusia pembangun. Memang, yang nama
nya pembangunan seutuh nya adalah pembangunan yang mampu memberi manfaat
kepada para pihak dan mampu menumbuhkan partisipasi masyarakat.
Partisipasi yang sebelum nya membutuhkan ada nya persepsi dan motivasi.
Meminjam pemikiran Prof. Gunawan Satari, Prof Herman Soewardi; dan Prof. Imang Hasansulama dalam Dedi Sufyadi
(1999); pembangunan pertanian dapat di definisikan minimal dari tiga
aspek pendekatan yaitu teknik; ekonomi dan aspek sosial. Menurut
pemikiran teknis, pembangunan pertanian mengandung arti peningkatan akal
dan karya manusia melalui pengendalian proses biologis dan produksi
dalam memanfaatkan sumberdaya alam guna memenuhi kebutuhan manusia.
Pemikiran ekonomi menyiratkan bahwa, pembangunan pertanian adalah
pembangunan ekonomi yang dilaksanakan dalam bidang pertanian; termasuk
perubahan sosial yang seringkali ditafsirkan dengan modernisasi.
Pemikiran sosial menjelaskan bahwa, pembangunan pertanian adalah proses
belajar, proses penyuluhan; proses komunikasi dan proses sosial yang
banyak berhubungan dengan mental. Dalam aspek sosial ini lah mata kuliah
sosiologi pertanian dan penyuluhan pertanian diharapkan dapat
memberikan kontribusi nya.
Mosher,A.T. (1974)
menyatakan bahwa, keberhasilan pembangunan pertanian salah satu nya
ditentukan oleh tercipta nya kegiatan di desa yang meliputi penelitian,
penyediaan input produksi pertanian; menciptakan struktur pedesaan
progresif; memberikan rangsangan membangun; memperbaiki tanah pertanian;
dan pendidikan teknis. Permasalahannya, bagaimana ke dua mata kuliah
yaitu, sosiologi pertanian dan penyuluhan pertanian mampu memberikan
kontribusi nya bagi tercipta nya keberhasilan pembangunan pertanian
tersebut.
Dalam konteks itu lah penulis menduga bahwa,
sosiologi pertanian dan penyuluhan pertanian sebagai mata kuliah
dituntut untuk memberi penguatan terhadap pembangunan pertanian. Dengan
demikian pembangunan pertanian tidak sekedar jadi pelengkap penderita,
dan hanya mengejar pertumbuhan semata. Pembangunan pertanian dapat pula
menciptakan pemerataan dan dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal ini tampak nya sosiologi pertanian perlu lebih fokus pada
pengembangan riset sosial, sedangkan penyuluhan pertanian sebagai mata
kuliah perlu lebih fokus kepada hal-hal yang berkaitan dengan
pemberdayaan masyarakat tani.
II. SOSIOLOGI PERTANIAN
Sosiologi pertanian identik dengan ilmu
masyarakat pertanian. Dalam konteks wawasan kebudayaan, sosial; dan
individual; sosiologi pertanian dipelajari minimal mencakup tiga aspek
yaitu struktur sosial, proses sosial dan perubahan sosial. Struktur
sosial dipelajari melalui teori struktur, proses sosial dipelajari
melalui teori kultur; dan aspek perubahan soial dipelajari melalui teori
perubahan sosial. Begitu hal nya tentang masyarakat pertanian
dipelajari tidak terbatas pada masyarakat tani di pedesaan tapi
menjangkau pula terhadap masyarakat tani di tingkat nasional. Perluasan
wawasan itu lah yang perlu mewarnai pendidikan sosiologi pertanian di
masa mendatang.
Dari ke tiga aspek tersebut untuk kepentingan
pendidikan sosiologi pertanian di Fakultas Pertanian Universitas
Siliwangi dijabarkan ke dalam satuan acara perkuliahan sebagai berikut :
sejarah pertanian, hubungan petani dengan tanah; ciri-ciri kehidupan
masyarakat tani; struktur masyarakat tani; pertanian tradisional dan
pertanian kontemporer; inovasi dan komunikasi teknologi; pelapisan
sosial; perubahan sosial; kepemimpinan; pembangunan dan modernisasi.
Namun patut disadari bahwa, satuan acara perkuliahan tersebut belum
bersifat runtut dan komprehensip, tapi masih banyak ruang kosong yang
masih perlu di isi atau di substitusi. Oleh karena nya forum lokakarya
yang diselenggarakan oleh UNPAD ini menjadi penting guna mendapatkan
substansi baru bagi pendidikan sosiologi pertanian dan penyuluhan
pertanian.
Sebenar nya kurang lebih lima puluh tahun
yang lalu atau tepat nya pada akhir tahun empat puluhan dan awal tahun
lima puluhan, para akhli sosiologi yang bergerak di dalam dunia pedesaan
dan pertanian membedakan antara sosiologi pertanian dengan sosiologi
pedesaan. Perlu diketahui sosiologi pertanian seperti sosiologi industri
adalah sosiologi aktifitas (Ganjar Kurnia, 2004). Begitu hal
nya di Faperta Unsil, mata kuliah sosiologi pertanian itu sebelum nya
bernama sosiologi pedesaan. Tampak nya perbedaan antara sosiologi
pertanian dengan sosiologi pedesaan pun perlu dibicarakan hingga tuntas
dalam forum lokakarya.
Menurut Dedi Sufyadi (2011),
sosiologi pertanian merupakan wacana seputar problematik masyarakat
pertanian yang demikian kompleks. Problem yang berada pada tiga pilar
besar yaitu proses sosial, struktur sosial dan perubahan sosial.
Pola-pola kebudayaan yang senantiasa berkembang dinamis turut mewarnai
problematik kemasyarakatan, terutama masyarakat pertanian. Dengan
demikian diskursus tentang sosiologi pertanian tidak sekedar menyangkut
konsep-konsep teoritik yang sempit, tetapi menyangkut pula tentang
refleksi terhadap permasalahan faktual. Untuk itu tidak lah salah
apabila sosiologi pertanian turut andil dalam memecahkan permasalahan
dari sudut pandang aspek sosial demi keberhasilan pembangunan pertanian.
Ganjar Kurnia (2004)
berpendapat bahwa, tema yang di usung di dalam sosiologi pertanian,
mulai dari yang bersifat mikro, seperti interaksi antar petani,
interaksi petani dengan pelaku lain; tingkatan meso seperti
lembaga dan oreganisasi pertanian (termasuk organisasi pertanian
modern), kebijakan pertanian; perundang-undangan pertanian dan interaksi
atau dampak dari berbagai kebijakan ; aturan; interaksi antar pelaku
pertanian terhadap kehidupan petani dan pertanian secara umum.
Berbicara tentang kontribusi sosiologi
pertanian untuk pembangunan pertanian, menurut penulis sebaik nya
sosiologi pertanian mampu menanggung beban sebagai wadah kajian untuk
keperluan riset sosial. Substansi riset sosial yang di kaji dalam
sosiologi pertanian antara lain : Kajian yang bersifat kuantitatif
seperti, pembinaan kelembagaan kepada anggota, partisipasi anggota
kelompok tani; keterlibatan warga dalam kelompok tani; tingkat
pendidikan; mata pencaharian; hubungan antar lembaga; tingkat kemakmuran
masyarakat; dan masalah kependudukan (Rusidi, 1992). Kajian
yang bersifat kualitatif antara lain tentang soal kehidupan keagamaan
petani; soal mobilitas kerja petani; soal potensi dan prospek kelompok
tani; soal koperasi petani; dan soal partisipasi petani dalam
pembangunan pertanian yang mengandalkan pada rekonseptualisasi upaya
pemecahan masalah.
Hal ini sejalan dengan pendapat Muchtar Buchori dalam Ganjar Kurnia
(2004) yaitu, di dalam bidang penelitian, ada harapan bahwa ilmu sosial
bukan hanya sekedar melukiskan serta menerangkan kenyataan yang ada.
Setiap penelitian harus selalu dilakukan untuk memperbaiki situasi
sosial yang ada dan meluruskan ketimpangan yang ada. Kewajiban moral
peneliti di dalam memahami masyarakat yang diteliti, memetakan situasi
problematik yang dihadapi masyarakat yang di teliti untuk kemudian
mendampingi mereka secara mental dan intelektual dalam usaha mereka
untuk mendatangkan perbaikan yang mereka dambakan.
III. PENYULUHAN PERTANIAN
Penyuluhan pertanian identik dengan
pendidikan pertanian. Bagi petani yang umum nya masih rendah tingkat
pendidikan nya, tentu nya kegiatan penyuluhan ini sangat diperlukan;
agar pembangunan pertanian kita dapat dirasakan langsung oleh kelompok
sasaran. Terus terang sampai kini pembangunan pertanian kita masih
memprihatinkan saja. Belum ada peningkatan, yang ada hanya lah
kemarginalan. Di sini lah tantangan bagi mata kuliah penyuluhan
pertanian untuk dapat menyuguhkan bagaimana strategi penyuluhan
pertanian yang paling tepat bagi masyarakat.
Rachbini, D.J. (2001),
menyatakan bahwa jika selama ini pembangunan ekonomi di negeri ini belum
berhasil merembes ke bawah, penyebab nya karena pembangunan ekonomi
yang dijalankan telah mengabaikan dimensi etika dan unsur manusia
sebagai subjek pembangunan itu sendiri. Di sini mengandung arti bahwa,
tumbuh nya partisipasi masyarakat tani dalam pembangunan pertanian
sangat lah penting. Guna menumbuhkan partisipasi masyarakat tani
tersebut tidak dapat lepas dari kegiatan penyuluhan pertanian. Efektif
nya kegiatan penyuluhan pertanian, tentu nya akan membuat transfer ilmu
dan teknologi di bidang pertanian akan berjalan lebih lancar.
Pendidikan penyuluhan pertanian di Fakultas
Pertanian Universitas Siliwangi disampaikan beberapa materi antara lain,
tentang falsafah, azas dan prinsip penyuluhan; Fungsi, tujuan dan
kemudahan penyuluhan; Proses belajar mengajar; Proses adopsi dan difusi
inovasi; Metode penyuluhan; Sistem penyuluhan pertanian; Trilogi
penyuluhan pertanian; Pembinaan Kelompok Tani; Peranan penyuluh dalam
modernisasi pertanian; Etika penyuluhan; Sistem kerja penyuluhan
pertanian; Program penyuluhan pertanian; dan Evaluasi penyuluhan. Materi
yang berupa satuan acara perkuliahan ini tampak nya masih perlu
diluruskan berhubung di samping mata kuliah penyuluhan pertanian ini
masih ada mata kuliah lain yang lebih bersifat introduksi maupun advanced seperti mata kuliah pengantar penyuluhan pertanian maupun mata kuliah metode penyuluhan pertanian.
Berbicara tentang kontribusi mata kuliah
penyuluhan pertanian untuk pembangunan pertanian, sebaik nya penyuluhan
pertanian sebagai mata kuliah itu mampu berperan dalam upaya
pemberdayaan masyarakat tani yang sekarang ini merupakan kebutuhan
mendesak. Dalam hal ini mata kuliah penyuluhan pertanian mesti mampu
memberi kontribusi dari segi substansi bagi upaya pemberdayaan
masyarakat tani. Melalui forum lokakarya ini, diharapkan kontribusi mata
kuliah penyuluhan pertanian terhadap pembangunan pertanian akan
terungkap lebih nyata.
Menurut Ibrahim Ohrella (2001)
bahwa, tanpa keberpihakan kepada pemberdayaan masyarakat tani, akan
semakin sangat mustahil untuk dapat membimbing petani menjadi subjek
pembangunan turut serta dalam transformasi struktural, apalagi kualitas
sumberdaya manusia pertanian di dominasi tenaga kerja berpendidikan
rendah. Memang, bila kita melakukan riset dan menelaah identitas
responden umum nya petani kita berpendidikan SD/SR. Kenyataan pun kian
menghawatirkan mengingat hampir 50 persen tenaga kerja kita itu
merupakan petani. Sudah tentu keadaan ini merupakan salah satu kendala
dalam pembangunan pertanian dan sumberdaya manusia pertanian itu
sendiri.
Dengan melihat fenomena yang terjadi di
lapangan itu, sudah dapat dibayangkan bagaimana kompleks nya
permasalahan pembangunan sumberdaya manusia masyarakat petani di
Indonesia. Untuk membangun citra pertanian yang tangguh dan modern,
upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia pertanian merupakan
persoalan yang sangat mendasar.
Kebijaksanaan pemberdayaan masyarakat tani harus seiring dengan arah baru pembangunan nasional, yaitu :
Pemihakan dan pemberdayaan masyarakat
Pemantapan
otonomi dan desentralisasi melalui pendelegasian wewenang lebih luas
kepada masyarakat dan aparat daerah untuk melaksanakan program
pembangunan, serta
Pemantapan
perubahan struktur masyarakat melalui penerapan teknologi baru yang
dilakukan melalui peningkatan kegiatan sosial ekonomi produktif yang
berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan berkaitan dengan arah
baru pembangunan pertanian.
Ke depan, paradigma
pembangunan pertanian adalah pertanian berkelanjutan yang berada dalam
konteks pembangunan manusia. Paradigma pembangunan pertanian ini,
bertumpu pada kemampuan bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat
dengan kemampuan sendiri. Pembangunan pertanian berkebudayaan industri
merupakan langkah strategis dalam mewujudkan pembangunan pertanian yang
menempatkan pembangunan berorientasi pada manusia sebagai tolok ukur
nya. Berkaitan dengan itu, pengembangan kapasitas masyarakat (capacity building) merupakan implementasi pembangunan yang berdimensi pembangunan sumberdaya manusia.
Sumberdaya manusia merupakan
faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam upaya perbaikan
pembangunan pertanian, Faktor sumberdaya manusia pertanian dikelompokkan
sebagai berikut : masyarakat tani, petugas pertanian mulai dari PPL
sampai dengan aparat tngkat pusat; aparat pembina mulai Camat sampai
Gubernur; dan aparat penunjang kgiatan pertanian. Di sini PPL boleh
dikatakan sebagai jadi ujung tombak dalam kegiatan penyuluhan pertanian.
Program pendampingan petani
merupakan salah satu cara untuk pemberdayaan dan meningkatkan kemampuan
petani di samping kegiatan penyuluhan yang selama ini telah berlangsung.
Khusus nya program pendampingan, diperlukan penataan sistem yang
mengarah dan berorientasi pada tujuan dan sasaran yang jelas. Tujuan dan
sasaran bukan merupakan sesuatu yang abstrak tapi sebaliknya adalah
sesuatu yang dapat di ukur. Dengan demikian maka evaluasi pencapaian
tujuan dan sasaran dapat dilakukan dengan akurat. Kegiatan pencapaian
tujuan dan sasaran akan lebih terarah apa bila tujuan dan sasaran
dirumuskan secara berjenjang dan bertahap. Selanjut nya, petani harus
senantiasa membuka diri guna menerima informasi yang berkenaan dengan
upaya peningkatan produksi, tanpa hal ini mustahil akan terjadi ada
teknologi..
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
(1). Pendidikan sosiologi
pertanian di tuntut untuk memberi penguatan terhadap pembangunan
pertanian melalui pengembangan riset sosial. Semakin berkembang riset
sosial diharapkan aspek sumberdaya manusia dalam pembangunan pertanian
dapat lebih diperhatikan. Dengan demikian tentu nya essensi pembangunan
akan lebih berkualitas..
(2). Pendidikan penyuluhan
pertanian di tuntut untuk memberi penguatan terhadap pembangunan
pertanian melalui pemberdayaan masyarakat tani. Semakin berkembangnya
kegiatan penyuluhan pertanian diharapkan aspek pemberdayaan masyarakat
tani akan lebih menonjol. Dengan demikian tentu pula essensi pembangunan
pertanian akan lebih luas. Antara teori dengan kenyataan menjadi tak
terlalu senjang.
4.2. Saran
Pada dasar nya pendidikan
sosiologi pertanian dan penyuluhan pertanian memiliki kaitan erat dan
memiliki manfaat yang tak jauh beda. Oleh karena nya ke dua mata kuliah
tersebut patut disinergikan bagi proses pembangunan pertanian. Untuk itu
guna meningkatkan efektifitas pemberdayaan masyarakat tani pengembangan
riset sosial perlu difokuskan pada pemecahan masalah pemberdayaan
masyarakat tani tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Arief Budiman. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ke Tiga. Penerbit PT. Gramedia. Pustaka Utama . Jakarta.
Dedi Sufyadi. 1999. Pembangunan Pertanian, Dasar dan Permasalahannya. Buku Ajar. Unpublish.
Dedi Sufyadi. 2011. Petunjuk Praktek Sosiologi Pertanian. Unpublish.
Ganjar Kurnia. 2004. Petani Pejuang Yang Terpinggirkan. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Dalam Ilmu Sosiologi Pertanian Pada Fakultas Pertanian UNPAD Bandung.
Ibrahim Ohorella. 2004. Pemberdayaan Masyarakat Tani. Pascasarjana UNPAD. Unpublish.
Mosher,A.T. 1974. Menciptakan Struktur Pedesaan Progressif.C.V. Yasaguna. Jakarta.
Rachbini,D.J. 2001. Pembangunan Ekonomi Sumberdaya Manusia. Penerbit P.T. Gramedia Mediasarana Indonesia. Jakarta.
Rusidi. 1992. Pengukuran Variabel. Penerbit UPT. IKOPIN. Bandung.
Dr. Dedi Sufyadi
Dosen Faperta Unsil Tasik.

Komentar
Posting Komentar