NALAR DI AKHIR TAHUN 2020
Oleh : Dedi Sufyadi
Tak terasa tahun 2020 segera lewat.Tahun buram yang penuh cobaan atau ujian. Diawali oleh bencana alam seperti banjir, longsor dan gempa bumi, di susul kemudian oleh bencana non alam korona alias Covid 19. Memang, apa yang terjadi di tahun korona ini pantas untuk kita renungkan guna di ambil hikmah nya bagi kehidupan di masa yang akan datang.
Nalar
di akhir tahun 2020 ini bila di identifikasi cukup banyak yang muncul di benak
ini. Diantara nya ada Covid 19 berikut vaksin, ada pilkada serentak; ada pupuk
bersubsidi; ada Menteri korupsi dan tentu nya ada pergantian Menteri. Tak
ketinggalan ada HRS yang baru pulang dari Arab hingga menelan nyawa enam orang
Laskar FPI.
Boleh
di bilang tahun 2020 ini sebagai tahun Korona. Penyakit aneh ini telah mewabah
di seantero dunia dan berdampak kepada kehidupan ekonomi masyarakat.
Pengangguran, kematian yang seakan-akan menjadikan Covid-19 ini menjadi
penyakit yang sangat menakutkan. Akhir nya datang lah vaksin dari China, padahal siapa yang mau di suntik
belum ada.
Pilkada
serentak di tahun 2020, alhamdulillah tidak sampai menimbulkan kluster baru di tengah pandemi ini.
Namun sementara ini ada yang gembira, ada yang sedih; bahkan ada yang masih harap-harap cemas menunggu keputusan MK.
Perihal
pupuk bersubsidi di tahun 2020 ini sangat meresahkan para petani kita di tengah
pandemi ini. Ada nya kebijakan pupuk bersubsidi merupakan satu kepedulian
pemerintah terhadap nasib para petani. Oleh karena nya implementasi kebijakan
di lapangan itu sangat lah penting. Maksud saya jangan sampai para petani kita
mengalami kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut.
Perihal
ada nya korupsi kluster Menteri
menunjukkan bahwa memeng kekuasaan cenderung korupsi. Korupsi Menteri memiliki
aliran yang sangat panjang hingga ke Partai. Kata kan lah korupsi yang
dilakukan oleh Pak Edi Prabowo,
setidak nya membawa nama Partai Gerindra. Korupsi yang dilakukan Pak Yuliari membawa-bawa nama Partai
Demokrasi Perjuangan alias PDI, bahkan
hampir menyeret Gibran Rakabuming
sang pemenang Walikota Solo putera Pak
Jokowi.
Di
akhir tahun 2020 ini, ada pergantian Menteri dalam Kabinet Indonesia Maju. Ada enam Menteri yang di ganti. Salah satu
nya Pak Jokowi mengganti Menteri
Agama. Saya setuju dengan pendapat Menag baru bahwa, agama jangan dijadikan
alat politik. Kehidupan beragama di NKRI ini cukup beragam. Namu demikian ,
saya punya catatan sebaik nya yang nama
nya PKI di negeri ini tidak boleh
hadir lagi dalam dunia perpolitikan kita, karena pada dasar nya sudah menjadi
komitmen bangsa melalui Tap MPR RI.
Perihal
kasus HRS ternyata sangat menguras
energi Bangsa, saya khawatir dapat mengancam keutuhan Bangsa. Sebagimana kita
ketahui, kasus HRS ini telah menelan
enam nyawa manusia. Pemerintah yang berkuasa seakan-akan tidak mau menerima kepulangan
HRS ini.
Untuk Di ambil Hikmah nya
Dengan
ada nya Covid-19, diharapkan kita dapat meningkatkan ketertiban, membangun pola
hidup sehat; dan dapat membangun tata kelola dalam bekerja. Betapa penting nya
Covid-19 dijadikan momentum perubahan kepada pola hidup bersih yang di kenal
dengan 3 M ( Mencuci tangan, Menghindari kerumunan, Menjaga jarak). Penyakit
yang cukup aneh ini semoga cepat berlalu, sehingga masyarakat dapat segera menempuh
hidup baru ke arah yang lebih baik dalam ekonomi maupun kesehatan. Belajar dari
persoalan vaksin, semoga saja ke depan tentang perencanaan dalam penanganan
kesehatan itu dapat lebih terintegrasi dan menyeluruh mulai dari siapa yang mau
di suntik hingga apa yang akan di suntikkan.
Tentang
hasil Pilkada yang masih carut marut,
terutama di Kabupaten Tasikmalaya; semoga saja dapat di ambil hikmah nya.
Betapa penting nya, yang menang jangan terlalu gembira dan yang kalah jangan
terlalu bersedih. Betapa penting nya itu yang nama nya persatuan di antara
kita.
Tentang
ada nya pupuk bersubsidi, betapa penting nya distribusi input dan output dalam
pembangunan pertanian. Betapa penting nya pembangunan pertanian bagi
terciptanya kesejahteraan para petani. Betapa penting nya persoalan logistik
bagi petani segera dibenahi.
Mengambil
pelajaran dari ada nya Menteri korupsi, kita dapat melihat sejati nya Partai
itu dapat dikatakan sebagai wadah untuk mencari kekuasaan. Sudah menjadi
literatur bahwa, kekuasaan itu cenderung korup. Oleh karena nya sebaik nya
Partai di negeri ini cukup dua saja. Hikmah lain nya betapa penting nya KPK
terus diperkuat guna mengawasi perilaku kekuasaan.
Dari
pergantian Menteri, khusus nya Menteri Agama, saya berharap semoga Menag baru ini dapat menciptakan
kesejukan dan kedamaian. Menag baru
agar dapat menahan diri untuk menggebug Islam. Soal rasa ini perlu dimiliki
oleh Menag baru, karena melalui rasa
ini lah kita dapat membangun koneksivitas dengan Allah SWT.
Akhir
nya hikmah dari ada nya kasus HRS itu merupakan ujian dan tantangan bagi
pemerintah yang berkuasa untuk mau menerima kritik dan pelurusan. Betapa
penting nya politik diagamakan. Maksud saya politik kekuasaan perlu di pandu
oleh agama. Sudah menjadi komitmen bangsa bahwa, tidak lah benar politik tanpa
agama hadir di negeri ini.
Semoga
saja lah, pandemi ini segera henti.
Kita sambut tahun 2021 dengan penuh kedamaian dan rasa syukur. Ternyata manusia
itu tidak cukup hanya memiliki sifat jujur saja. Manusia hidup perlu dibarengi
oleh keimanan dan ketaqwaan. Kejujuran harus digunakan untuk melawan ketamakan
dan kebengisan. Oleh karena nya betapa penting nya Pemerintah yang berkuasa
dibarengi oleh nilai-nilai keagamaan. Semoga.
Penulis :
Dedi Sufyadi, dosen
unsil tasikmalaya.
Tasik, 28 Desember 2020
No KTP :
3278031704560004
Hormat penulis,
Ttd
Dr. H. Dedi Sufyadi
Komentar
Posting Komentar