DARI RUMAH SENDIRI KE RUMAH ALLAH
Oleh : DEDI SUF
Pada hari Minggu, 21 September
saya bersama isteri telah ditaqdirkan berangkat ke tanah suci. Dari apa yang
telah saya jalani selama 40 hari
tersebut rasa nya tidak ada salah nya bila saya tulis. Hitung-hitung
ungkapan rasa dari seorang hamba yang ingin semakin dekat dengan Nya. Memang, ibadah haji di balik berat
dalam pelaksanaannya begitu interested untuk
di simak terutama dari aspek ketauhidan.
Pergi ke tanah suci punya keistimewaan tersendiri. Di antar orang-orang
sekitar. Anak-anak, saudara kakak adik turut mengantar dari mesjid hingga ke
gedung dakwah. Ibunda tercinta pun turut menyaksikan di alam sana. Memang, banyak upacara seremonial yang tujuan nya berlainan. Di mesjid, upacara
ngebralkeun
oleh tua kampung. Di gedung dakwah, upacara ngebralkeun
oleh Pak Walikota, Pak H. Budi
Budiman,SE,MPd. kompak bersama Bapak Wakil nya. Bahkan di kota Tasik ini Pa Wakil
walikota nya pun, Pak H. Dede Sudrajat,
Ir. MP. turut hadir subuh-subuh kemarin menjemput jema’ah nya di Bekasi. Sampai-sampai
saya kembali terharu, punya pemimpin yang begitu peduli terhadap rangkaian
kegiatan ibadah haji itu.
Kembali tentang rangkaian
perjalanan menuju rumah Allah tersebut.
Selanjut nya di embarkasi Bekasi , penyerahan paspor dan buku kesehatan.
Dan di Jedah, pemeriksaan paspor. Ya begitu lah
tahapan perjalanan yang cukup melelahkan tapi sangat mengundang penasaran,
karena akan segera melihat rumah Allah yang bernama Ka’bah.
Di sekitar gedung dakwah, para pengantar sudah menyemut. Sedih dan
gembira menyatu menjadi haru. Saya saat itu benar-benar terharu, seperti nya
para pengantar menganggap saya tak akan kembali lagi ke kampung halaman tempat
berdo’a, berikhtiar sekaligus membuat dosa. Begitu juga hal nya, suasana dalam
penjemputan pun tak jauh beda; anak kecil mata nya hingga berkaca-kaca ketika melihat
kedatangan ibunda tercinta.
Perjalanan menuju Bekasi tengah malam, betul-betul penuh kebersamaan.
Sholat subuh berjema’ah. Ke WC dan istirahat bersama. Bersama-sama memenuhi panggilan
Mu Ya Allah. Labbaika Allohumma labbaika.
Labbaikalla sari kallakallabbaika. Innalhamda wani’matala wahummulku la
syarikalla.
Di embarkasi Bekasi, saya sempat cari-cari HP milik saya tak ketemu, tapi
berkat bantuan seorang teman sesama jema’ah dari Dinas Pertanian Kabupaten
Tasikmalaya alat komunikasi utama tersebut dapat ditemukan kembali. Di saat yang lain saya juga sempat mendapat info
hingga kaget dari teman sesama jemaah yang baik, juga dari Dinas Pertanian
Kabupaten Tasikmalaya. Beliau menyerahkan kunci tas koper saya, kata nya kunci
utama tersebut beliau temukan sudah ngagoler
di atas lantai.
Di luar kelalaian saya, alhamdulillah saya dapat mengambil pelajaran dari
kejadian tersebut. Betapa agung Mu, Ya
Allah. Yang Maha pengasih. Yang Maha Penyayang. Allah SWT seperti nya
mengingatkan saya yaitu lah, jangan
grasa grusu, dan mesti rajin bersilaturahmi. Saya berpikir, betapa besar jasa
yang nama nya Dinas pertanian dalam perjalanan hidup saya semasa berhonor di
kantor tersebut hingga mengetuai sementara ini program studi ekonomi pertanian
dan agribisnis Pascasarjana Universitas Siliwangi Tasikmalaya.
Semoga saja selama saya dipercaya mengelola prodi ekpert dan agribisnis
pascasarjana Unsil, tidak hanya Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya saja yang
selalu membantu, tapi juga Dinas
Pertanian Kota Tasik, Ciamis, Garut; bahkan Kuningan berkenan pula membantu
terutama dalam program studi lanjut para staff nya. Alhamdulillah berkat ada
nya pemimpin (Bapak Kadis) yang baik, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten
Tasik dan Dinas Pertanian Kota Tasik selama ini telah berkenan menyekolahkan
puluhan Staff nya di Prodi ekpert dan agribisnis pascasarjana unsil.
Dari embarkasi Bekasi, rombongan saya di bawah pimpinan KH Ru’yatul
Hajjar dari KBIH Ass Surrur bergerak ke bandara Halim
Perdanakusumah. Di bandara sudah menunggu Saudi
Arabia Airline. Tak ada kesulitan apa pun, para tamu Allah dari kota Tasik tersebut
disambut oleh bidadari-bidadari sorga alias
pramugari-pramugara cantik dan ganteng.
Selama di penerbangan, saya sempat disuguhi dua kali makan enak. Pola
menu gaya padang yang di padu dengan sajian gaya saudi arabian , benar-benar
memenuhi selera perut saya. Nikmat makan yang saya rasakan itu, tentu nya patut
saya syukuri. Ya Robb, Yang Maha kaya;
Yang Maha pemurah.
Pergerakan pesawat semakin jauh, semakin mengangkasa; pandangan mata
melihat ke bawah semakin kecil. Ya Robb, betapa kecil hamba Mu ini. Lindungi lah, selamatkan lah hamba
ini hingga di tempat tujuan. Bila melihat ke bawah, tentu nya kita mesti
bersyukur karena Indonesia Raya ternyata
lebih hijau ketimbang Saudi Arabia.
Perjalanan sembilan jam an
antara Jakarta – Jedah memang mengasyikan. Layanan prima dari Kru Saudi arabia airlines itu patut di
contoh oleh Garuda Indonesia Airlines.
Semoga saja tak lagi kedengaran, cerita
miring tentang perusahaan penerbangan kita itu.
Tak berapa lama, dengan menggunakan bus antara kota Jedah – Mekah,
rombongan kloter 66 tempat saya berhimpun tiba lah di maktab 32 Rhoudhah E
12; maktab tempat pemondokan saya selama
melakukan ibadah haji di Mekah. Dari maktab ke rumah Allah tidak lah jauh,
dengan menggunakan bus gratis dapat dijangkau hanya makan waktu 15 menit.
Begitu sampai di tempat pondokan, berkat pengalaman KBIH Ass Surrur; saya dan rombongan langsung di bimbing mengunjungi
rumah Allah, Baitullah untuk
melakukan thawaf selamat datang. Sehabis thawaf, ketika berdo’a bersama yang di
pimpin oleh KH Ru’yatul Hajjar sebagai
pemimpin KBIH Ass Surrur yang lebih di kenal dengan nama Pak Haji Dede Ass Surrur, saya beserta
isteri langsung menangis. Saya teringat kepada ibunda tercinta yang semasa
hidup nya menginginkan saya untuk dapat pergi ke Mekah. Kata nya, tengok kakek
mu yang meninggal di Mekah sana. Saya ingat juga sama ayah yang begitu keras
dalam ikhtiar mencari nafkah nya. Ya Robb,
semoga anak-anak saya; dulur sadulur
di rumah, di kampung; di Kabar Priangan;
di Palembang sana, juga bisa ke Mekah
seperti saya. Aamiin. Subhanallah.
Catatan :
Tasikmalaya, 10 muharam 1436 H.
Penulis, Jema’ah Haji KBIH Ass Surrur. Hormat penulis,
Ttd
Dedi Sufyadi
Komentar
Posting Komentar